Pernahkah kau merasakan bahwa dirimu tidak berharga? Bahkan mungkin bila kau terbuang pun tidak akan yang mengulurkan tangan padamu. Atau bahkan kau mengilustrasikan dirimu bagai koleksi pakaian yg disimpan di gudang karena rusak dan tidak akan diletakkan di bagian paling depan toko untuk dijual, karena bahkan dengan harga gratis tidak akan ada yang memungutmu.
Sungguh menyakitkan apabila orang-orang mengatakan secara terang-terangan bahwa kau tidak cukup mampu, bahwa kau tidak cukup hebat, bahwa kau tidak cukup berada. Tapi juga tak kalah menyakitkan ketika dirimu harus menemui kenyataan bahwa mereka, orang-orang yang tersenyum di depanmu, ternyata menggunjingmu dari belakang.
Menyatakan ketidakmampuan mu atas berbagai hal yang memang faktanya kau pun tidak mampu. Hal yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa orang yang kau sayangi bahkan juga meragukan itu semua.
Apa yang kau lakukan ketika keluargamu mengkhawatirkan masa depanmu dengan anggapan bahwa kau tidak punya kemampuan untuk menuju masa depan? Mungkin kau akan diam, sama seperti aku. Membiarkan mereka beranggapan seperti itu, mencoba mendengar dan memberikan senyuman kecil kepada mereka sambil bergumam dalam hati “terkutuklah mereka!”
Ibuku datang padaku, menceritakan kekhawatiran mereka yang menurutku tidak masuk akal, seolah mereka yang akan menuliskan takdir pada suratan takdirku. Ketika ibu menyatakan hal tersebut, aku menatap wanita separuh baya itu dengan senyuman. Sangat menyakitkan tersenyum memandangnya kala itu. Bahkan aku bisa membaca sesuatu yang tersirat dari cara dia memandangku, dia hanya diam menatapku (yang berarti dia juga mencemaskanku). Tanpa membalas senyuman yang sulit ku suguhkan dari bibirku. Aku hanya menjawab dengan jawaban santai saat itu, seolah aku tidak memperdulikan apa yang orang lain katakan padaku.
Hari ini, aku mencoba berbincang santai pada ibu namun itu hanyalah aktivitas yang membuatku menangis setelahnya. Ibu menjawab perkataan orang lain tanpa perlu orang tersebut mengulang apa yang dia katakan, namun tidak kepadaku. Seolah aku sangat tidak diharapkan. Aku bahkan harus sedikit membentak agar ibu membalas perkataan terakhirku, dan beliau membalas dengan nada yang juga tidak bersahabat.
Aku hanya menghabiskan waktu untuk menangis di kamar dan berdoa supaya kekasihku segera datang dan membawaku berkeliling, kemana saja asal bukan berdiam di rumah ini.
Menangis, mungkin hanya itulah hal yang bisa kulakukan saat ini. Mengingat bahwa aku adalah gadis perempuan yang tidak bisa apa-apa hingga semuanya menganggap aku memang tidak memiliki kelebihan yang mencolok.
Tidak seperti gadis lain pada umumnya, aku sama sekali tidak pernah menyentuh perabotan dapur, tidak heran bahwa aku jelas tidak bisa memasak, tidak bisa membereskan rumah, dan bahkan tidak suka melakukan aktivitas perempuan. Aku tidak bisa berenang, bahkan untuk mengendarai sepeda roda dua saja aku sudah lupa bagaimana memulainya. Aku kurang pandai dalam meredam emosi, tapi aku bersyukur memiliki kekasih yang penuh perhatian dan sangat mengerti watakku.
Kekasihku, adalah salah seorang yang menerima aku dengan penuh seluk beluk kekurangan. Dia menghargaiku, dengan keterbatasan yang nyata padaku. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, bahkan keluargaku akan sangat menyakitkan seperti ini. Apakah memiliki keluarga akan sesakit itu? Apakah keluarga besar memang menyebalkan? Aku bahkan tidak mampu menceritakan hal yang mengganggu ini kepada kekasihku, aku pasti akan penuh isak mengingat apa yang kuperbincangkan dengan ibu waktu itu.
Aku merasa seperti gadis yang tidak berguna. Selama ini aku hanya berusaha selalu patuh dan menjadi gadis baik untuk ibuku. Aku sadar aku tidak bisa memberikan apa-apa sekarang selain memberikan nilai ku yang terkadang ajaib pada ibu, dan etitude seorang anak yang baik. Ibu melarangku bekerja, aku pun menurut. Ibu ingin aku mencari pria yang baik, dan ibu tahu aku selalu mendapatkan pria yang baik. Ibu tidak ingin aku menjadi gadis yang menilai segala sesuatu hanya dari segi materi, dan aku memahaminya serta menjalankan pemahamanku terhadap hidup yang saat ini menjadi dendam untuk kuselesaikan. Selama ini aku hanya berupaya menjadi gadis yang baik menurutku, tapi mungkin hal tersebut belumlah pantas untuk ibuku. Mungkin saat ini ibu hanya bingung mengatakan secara lembut kepadaku bahwa “aku sama sekali tidak berguna”
Aku sedih, jujur aku sedih. Aku tidak pernah mengerti kenapa semua orang seakan mengecamku dengan kalimat-kalimat yang terus merusak jaringan otakku secara perlahan. Ada sedih, marah, menyesal, dan dendam didalam nyawaku saat ini. Aku dendam untuk membuktikannya nanti. Mungkin saat ini, aku hanya akan diam karena menurutku akan sangat tidak pantas untuk mengatakan sekarang juga kepada mereka bahwa yang mereka pikir tentang aku itu tidak benar! Sedangkan aku barulah menjadi seorang pelajar yang tidak memiliki apa-apa ditangan selain ilmu yang baru sedikit kupelajari ini.
“…Suatu saat aka nada era baru, dimana saatnya aku berbalik dan menertawakan teorimu..Suatu saat kau akan menatap mengenaliku, tapi aku hanya akan mengacuhkanmu…”
Untuk ibuku, maaf karena kalimat itu juga ditujukan untukmu. Untuk keluargaku yang sangat kucintai, aku meminta maaf karena memiliki dendam sebesar ini pada kalian. Dendam ini sebesar sakit yang kalian tanamkan perlahan padaku. Tapi aku bukan hewan yang tidak punya hati nurani, aku tidak akan meninggalkan seluruh keluarga besar seperti sampah walaupun sekarang aku beranggapan mereka memperlakukanku seperti itu.
Suatu hari nanti, kalian semua akan tahu kepada siapa kalian menggores luka. Saudara mu ini menangis hingga mata membengkak, dan akan memberikan perwujudan yang tidak akan kalian duga. Aku akan mencari pekerjaan serta kehidupan dibelahan bumi yang lain sehingga aku tidak perlu mengingat kesedihan ini. Jika aku berhasil nanti, eits tidak, yang benar adalah aku pasti akan berhasil dan ketika aku berhasil beberapa waktu kedepan nanti, aku akan memilih untuk merantau. Kemana pun takdir membawaku, kemana pun hidup ini bisa berjalan seperti dendamku hari ini. Aku akan merantau jauh meninggalkan kalian dengan waktu yang tidak sebentar, hingga suatu saat kalian akan sadar. Aku bahkan memiliki penghasilan puluhan kali lipat lebih tinggi daripada yang kalian bayangkan, aku akan memiliki rumah dan tanah dimanapun aku akan menginjakkan kaki. Aku akan tinggal pada kediamanku yang nyaman, atau mungkin aku akan menempati apartemen paling megah dan mewah dari yang pernah kalian kunjungi.
Ibuku, aku akan meninggalkanmu cukup lama. Aku berencana merantau dan tidak akan pulang sampai aku membawa calon menantu yang pasti untukmu. Aku mencintaimu, dan aku akan menangggung seluruh keperluanmu dan adikku. Aku hanya ingin membuatmu bangga dan kau bisa merasakan, ketika aku membuatmu bangga, kau tidak bisa dengan leluasa berbincang padaku, memelukku, menatapku atau bahkan mengabaikan ucapanku seperti hari ini. Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin menciumu, tidak ingin memelukmu, seperti hari ini.