Awalnya sih berawal bener-bener iseng dikenalin sama temen yang kebetulan lagi telp an, eh kenalan di telp lanjut sms. Bener-bener iseng !! Sms an juga isinya masih datar-datar aja, bahkan waktu itu aku masih pengen buat sendiri dulu. Sms-an ma dia itu nyambung. Diajak ngobrol asik, diajak bercanda enak, diajak ngobrol agak berat juga nyambung :)
Keluar beberapa kali dan akhrinya pacaran setelah sebulan kenal :)
Awalnya gak ada pikiran pacaran sama anak yang kuliah di luar kota, bener-bener kayaknya semua nya udah diatur sama Tuhan.
Riyo (namanya) buakan tipe anak yang sok perhatian, bukan cowok yang lebay dan bukan tukang gombal. Satu hal yang paling susah, nih pacar geniiiiiiiiiiiitttt banget ke cewek-cewek. Awalnya seh emang sebel, perlu adaptasi ma sifatnya yang genit. Lambat laun ya aku cuekin emang dasarnya dia genit -___-" mau diapa-apain juga tetep genit !
Yang paling gak nguatin juga nih pacar suka janji-janji palsu. Karena mungkin aku keseringan marah, sampek kadang aku gak ngereken waktu dia batalin janji kesekian kalinya. Sampe capek lhooo.
Sering berantem karena aku nya yang suka marah, untungnya dia masih sabar sampai sekarang. Meskipun umur pacaran kami cuman 3bulan, tapi aku harap bakal langgeng.
Nih cowok bener-bener menghargai aku, enggak pernah maksain aku ngelakuin sesuatu yang aku enggak suka. Cara dia menghargai aku itu bener-bener bikin meleleh hha :p
Sering banget aku ngucapin kata "putus", tapi dia selalu kembali melelehkanku dengan kelakuannya. Banyak pengorbanannya yang gak pernah aku dapet sebelumnya dari para mantan. Terkadang aku memposisikan diriku pada dirinya, dan jujur kalo aku menghadapi seseorang yang memiliki sifat sekeras batu seperti diriku sendiri pasti udah aku tinggalin.
Untungnya Rio enggak :) Semoga Rio selalu sabar Tuhan, dan semoga aku bisa mengontrol diri supaya aku enggak jahat lagi sama Rio :*
Aku dan Rio itu LDR lhoooh, tapi aku ngerasa sejauh apapun kami, aku selalu ngerasa dia akan selalu ada buat aku, buat ngedengerin cerewetku, buat mendapat amarahku yang gak sepenuhnya salah dia :')
Satu lagi, ketika aku naksir sama seseorang aku pasti nyari informasi soal orang itu termasuk Rio. Tapi lebih sering aku mendapat informasi lebih dahulu sebelum si Rio cerita atau bahkan Rio gak cerita kalo enggak aku sindir. I know you more than you know honey, i just wait you to speak ! Sayang sekali, Rio tipe cowok yang berbicara setelah aku tanya.
Rio memanjakanku, dan aku baru menemukan yang seperti ini :) *Alhamdulillah yah*
18.9.11
Aku
Kali ini aku akan bercerita sedikit tentang diriku sendiri :p
Aku manjadi anak semata wayang selama 7 tahun hingga pada umur 8 tahun aku memiliki seorang adik perempuan dan statusku berubah menjadi "kakak"
Aku tinggal bersama kedua orang tua dan nenekku, juga adikku setelah dia lahir.
Aku tumbuh menjadi anak yang manja, penakut dan lemah. Mungkin itu akibat selama 7 tahun apa yang aku minta terpenuhi dirumah. Suasana rumah yang tidak pernah kejam padaku kecuali almarhum nenekku yang selalu membuatku marah tiap harinya. Beliau begitu menyayangiku hingga tidak mengizinkanku untuk bermain dengan sembarang teman, selalu menyuruhku makan setiap waktu dan aku selalu membentak beliau. Selalu ada pertengkaran di tiap hari karena permasalahan "makan". Hal tersebut membuatku tumbuh menjadi anak yang pemarah.
Berjalannya waktu, aku bersekolah disana-sini. Menemui beragam macam orang dengan berbagai sifat dan karakter. Perlahan aku belajar dari seseorang untuk menjadi egois. Kala ketika itu aku menemui orang yang sangat ceplas-ceplos dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Banyak diantara mereka bahkan mencari kepentingan pribadi meskipun itu tidak menguntungkan orang lain. Akhirnya aku mengambil keputusan bahwa "Hanya aku yang dapat menyelamatkan hak ku sendiri. Mereka tidak menghargai orang lain jadi buat apa aku menghargai mereka. Mereka mencari kepuasan pribadi jadi aku juga tidak boleh lemah dengan hanya mengiyakan semuanya. Aku bukan kambing congek yang menuruti sesuatu yang tidak menguntungkanku. Dunia ini engga seramah keadaan rumah yang selalu jujur padaku dan mengutamakan aku, hanya aku yang dapat menolong diriku sendiri. Jadi aku harus segera bersikap sebelum mereka bisa seenaknya menganggapku bodoh"
Aku sempat belajar hidup dari cinta. Cinta monyet dimana saat ini aku sangat menyesal akan itu. Namun cinta monyet yang menjadi kebodohanku di masa lalu itu mengajarkanku bahwa "Cinta semakin dikejar semakin tak kau dapat. Terkadang akan banyak kau temui kebohongan terselip di dalamnya. Beragam pria kutemui dengan beragam karakter yang berbeda. Tidak semua pria yang menyatakan menyayangimu itu jujur. Lidah tak bertulang, persentase untuk berbohong sangatlah besar, apalagi hanya dengan mengandalkan kata cinta"
Aku belajar banyak dari masa kecil ku hingga saat ini, aku mencoba mengatur semuanya. Pura-pura diam padahal aku tahu apa isi hati mereka. Pura-pura diam namun perlahan menjauhi mereka yang aku tidak suka.Belajar untuk munafik? tidak ! tentu tidak. Aku hanya menjalankan semuanya dengan caraku sendiri. My Life My Rules. Tidak perlu banyak bicara untuk menggambarkan ketidak sukaan kepada seseorang. Just keep silent. Karena hanya aku yang paling mengenal diriku sendiri.
Aku manjadi anak semata wayang selama 7 tahun hingga pada umur 8 tahun aku memiliki seorang adik perempuan dan statusku berubah menjadi "kakak"
Aku tinggal bersama kedua orang tua dan nenekku, juga adikku setelah dia lahir.
Aku tumbuh menjadi anak yang manja, penakut dan lemah. Mungkin itu akibat selama 7 tahun apa yang aku minta terpenuhi dirumah. Suasana rumah yang tidak pernah kejam padaku kecuali almarhum nenekku yang selalu membuatku marah tiap harinya. Beliau begitu menyayangiku hingga tidak mengizinkanku untuk bermain dengan sembarang teman, selalu menyuruhku makan setiap waktu dan aku selalu membentak beliau. Selalu ada pertengkaran di tiap hari karena permasalahan "makan". Hal tersebut membuatku tumbuh menjadi anak yang pemarah.
Berjalannya waktu, aku bersekolah disana-sini. Menemui beragam macam orang dengan berbagai sifat dan karakter. Perlahan aku belajar dari seseorang untuk menjadi egois. Kala ketika itu aku menemui orang yang sangat ceplas-ceplos dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Banyak diantara mereka bahkan mencari kepentingan pribadi meskipun itu tidak menguntungkan orang lain. Akhirnya aku mengambil keputusan bahwa "Hanya aku yang dapat menyelamatkan hak ku sendiri. Mereka tidak menghargai orang lain jadi buat apa aku menghargai mereka. Mereka mencari kepuasan pribadi jadi aku juga tidak boleh lemah dengan hanya mengiyakan semuanya. Aku bukan kambing congek yang menuruti sesuatu yang tidak menguntungkanku. Dunia ini engga seramah keadaan rumah yang selalu jujur padaku dan mengutamakan aku, hanya aku yang dapat menolong diriku sendiri. Jadi aku harus segera bersikap sebelum mereka bisa seenaknya menganggapku bodoh"
Aku sempat belajar hidup dari cinta. Cinta monyet dimana saat ini aku sangat menyesal akan itu. Namun cinta monyet yang menjadi kebodohanku di masa lalu itu mengajarkanku bahwa "Cinta semakin dikejar semakin tak kau dapat. Terkadang akan banyak kau temui kebohongan terselip di dalamnya. Beragam pria kutemui dengan beragam karakter yang berbeda. Tidak semua pria yang menyatakan menyayangimu itu jujur. Lidah tak bertulang, persentase untuk berbohong sangatlah besar, apalagi hanya dengan mengandalkan kata cinta"
Aku belajar banyak dari masa kecil ku hingga saat ini, aku mencoba mengatur semuanya. Pura-pura diam padahal aku tahu apa isi hati mereka. Pura-pura diam namun perlahan menjauhi mereka yang aku tidak suka.Belajar untuk munafik? tidak ! tentu tidak. Aku hanya menjalankan semuanya dengan caraku sendiri. My Life My Rules. Tidak perlu banyak bicara untuk menggambarkan ketidak sukaan kepada seseorang. Just keep silent. Karena hanya aku yang paling mengenal diriku sendiri.
Stupid because of love..?
Cinta itu tidak pernah membuat seseorang menjadi bodoh namun yang ada sekarang seseorang manjadikan alasan "cinta" akibat kesalahannya. Padahal yang sebenarnya terjadi, itu adalah kebodohan orang itu sendiri. Cinta tidak pernah membutakan, cinta tidak pernah membuat kita bodoh. Jadi jika kau terjerumus akan kesalahanmmu sendiri jangan salahkan cinta.
Orang-orang biasa menutupi kebodohan mereka dengan mengambing hitamkan sesuatu/seseorang. Sama halnya ketika mereka menutup-nutupi kebodohan mereka dengan mengambing hitamkan cinta.
Logiskah?
Coba dipikir-pikir lagi. Janganlah menyalahkan cinta atas kesalahan yang sepenuhnya adalah salahmu.
Kau akan terus terkurung dalam tengkurung jika hanya menyalahkan cinta dan tidak mengakui kebodohanmu sendiri.Memang sangat sulit mengakui kebodohan pribadi dan bangkit dari yang telah lalu, tapi yakinlah bahwa hal itu akan penjadi akar yang kuat untuk besok sehingga kau tidak akan lagi menyalahkan cinta atas kebodohan pribadimu.
Cinta itu hadir secara alami, namun mereka yang pintar memainkan hati dan perasaan lah yang menang dan bisa menaklukkan cinta.
Orang-orang biasa menutupi kebodohan mereka dengan mengambing hitamkan sesuatu/seseorang. Sama halnya ketika mereka menutup-nutupi kebodohan mereka dengan mengambing hitamkan cinta.
Logiskah?
Coba dipikir-pikir lagi. Janganlah menyalahkan cinta atas kesalahan yang sepenuhnya adalah salahmu.
Kau akan terus terkurung dalam tengkurung jika hanya menyalahkan cinta dan tidak mengakui kebodohanmu sendiri.Memang sangat sulit mengakui kebodohan pribadi dan bangkit dari yang telah lalu, tapi yakinlah bahwa hal itu akan penjadi akar yang kuat untuk besok sehingga kau tidak akan lagi menyalahkan cinta atas kebodohan pribadimu.
Cinta itu hadir secara alami, namun mereka yang pintar memainkan hati dan perasaan lah yang menang dan bisa menaklukkan cinta.
Life Style
Life Style adalah salah satu topik yang engga akan selesai dibahas. Banyak hal-hal menarik di dalamnya. Bahkan tanpa kita(biasanya para wanita) sadari bahwa sebagian besar bahan gosip adalah mengenai lifestyle.
Mengenai siapa mereka, pakaian apa yang mereka pahai, merk apa yang selalu menggantung di tiap detail yang mereka kenakan, dimana tempat tongkrongan mereka, siapa pacar mereka, apa olahraga kesukaan mereka, apa merk handphone mereka, mobil apa yang mereka gunakan, kemana mereka pergi berlibur, dan lain-lain.
Tahukah kalian, aku bahkan pernah berhenti mendekati pria karena masalah yang satu ini "lifestyle". Ini bukan berarti minder atau tidak percaya diri. Namun, aku hanya berfikir akan perbedaan lifestyle kami yang terlalu jauh.
Seperti contoh simple nya, lelaki itu menyukai dugem sedangkan aku tidak. Apakah jika suatu saat dia mengajakku untuk dugem dan aku pasti akan menolak. Aku akan banyak memiliki ratusan negative thinking ketika dia dugem tanpa adanya aku. Kenapa? karena aku tidak suka kegiatan itu, ketidak sukaan ku terhadap suatu hal tentu karena aku sudah menganggapnya negative. Dengan kata lain, aku bisa saja menghabiskan malam penuh kekhawatiran akan sesuatu yang engga sepenuhnya nyata.
Contoh lain adalah ketika aku ingin menghabiskan waktu ke toko buku dan dia bukan lelaki yang suka ke toko buku. Aku bahkan berpikir bahwa dia pasti akan meninggalkanku nongkrong dengan teman-teman nya selama aku asyik membaca buku.
Terlalu banyak perbedaan lifestyle yang terkadang menjadi penghalang yang mendasar. Seperti tembok tinggi yang transparan yang sering dianggap remeh awalnya. Banyak yang berpendapat "oh please, it just lifestyle means nothing. you have love" , namun tidak menurutku. Love can delete the big walls? bullshit--"
Mengenai siapa mereka, pakaian apa yang mereka pahai, merk apa yang selalu menggantung di tiap detail yang mereka kenakan, dimana tempat tongkrongan mereka, siapa pacar mereka, apa olahraga kesukaan mereka, apa merk handphone mereka, mobil apa yang mereka gunakan, kemana mereka pergi berlibur, dan lain-lain.
Tahukah kalian, aku bahkan pernah berhenti mendekati pria karena masalah yang satu ini "lifestyle". Ini bukan berarti minder atau tidak percaya diri. Namun, aku hanya berfikir akan perbedaan lifestyle kami yang terlalu jauh.
Seperti contoh simple nya, lelaki itu menyukai dugem sedangkan aku tidak. Apakah jika suatu saat dia mengajakku untuk dugem dan aku pasti akan menolak. Aku akan banyak memiliki ratusan negative thinking ketika dia dugem tanpa adanya aku. Kenapa? karena aku tidak suka kegiatan itu, ketidak sukaan ku terhadap suatu hal tentu karena aku sudah menganggapnya negative. Dengan kata lain, aku bisa saja menghabiskan malam penuh kekhawatiran akan sesuatu yang engga sepenuhnya nyata.
Contoh lain adalah ketika aku ingin menghabiskan waktu ke toko buku dan dia bukan lelaki yang suka ke toko buku. Aku bahkan berpikir bahwa dia pasti akan meninggalkanku nongkrong dengan teman-teman nya selama aku asyik membaca buku.
Terlalu banyak perbedaan lifestyle yang terkadang menjadi penghalang yang mendasar. Seperti tembok tinggi yang transparan yang sering dianggap remeh awalnya. Banyak yang berpendapat "oh please, it just lifestyle means nothing. you have love" , namun tidak menurutku. Love can delete the big walls? bullshit--"
cewek matre
Cewek matre...?
Memang kenapa kalo matre?
Apa cewek matre itu buruk? hina? enggak juga kok --"
Logisnya yah, hari gini mana ada sih cewek gak matre??
Mau nyari kemana buat nemuin cewek enggak matreeee?
80% cewek itu pasti matre, walaupun banyak yang ngaku "aku bukan cewek matre" padahal kalo diperhatikan bener-bener pasti tuh cewek punya kadar "matre" walaupun gak 50%
Menurut kalian, ketika cewek berkencan sama cowok siapa yang bayarin? siapa yang menjemput? COWOK khan? masak cewek?
Kalo sudah berumah tangga, siapa yang paling berkewajiban mencari nafkah? Anak SD juga tahu kalo jawabannnya adalah "Ayah" !
Sempat aku ingat materi dari dosen agamaku yang mengatakan, "Bagi perempuan bila ingin mencari suami, haruslah mencari suami yang bertaqwa-berakhlak-beruang"
Memang kata "beruang" menjadi urutan terakhir, tapi kalo perempuan mencari jodoh yang bertaqwa-berakhlak-beruang, apakah itu engga matre?
Sebenernya sih tiap cewek dasarnya matre, cuma beda penyikapan dan berbeda kadar persentase ke"matre"annya itu.
Bukan hal yang buruk kalo cewek itu matre, asal matre nya engga berlebihan aja. Cewek juga harus mandiri engga selalu "minta" ke cowok, tapi cowok juga harus paham kalo cewek matre itu sudah menjadi rahasia umum yang engga perlu diheboh-heboh kan lagi.
Buat cowok, dominan semua cewek itu matre, engga perlu dihindari, engga perlu dibenci. Selama para cowok engga ng-treat ceweknya secara berlebihan :) kadang cewek matre juga karena cowoknya yang selalu nge"iya" in dan engga tegas.
So rubah deh pandangan soal cewek matre, engga semua yang kelihatannya buruk itu beneran buruk :)
Memang kenapa kalo matre?
Apa cewek matre itu buruk? hina? enggak juga kok --"
Logisnya yah, hari gini mana ada sih cewek gak matre??
Mau nyari kemana buat nemuin cewek enggak matreeee?
80% cewek itu pasti matre, walaupun banyak yang ngaku "aku bukan cewek matre" padahal kalo diperhatikan bener-bener pasti tuh cewek punya kadar "matre" walaupun gak 50%
Menurut kalian, ketika cewek berkencan sama cowok siapa yang bayarin? siapa yang menjemput? COWOK khan? masak cewek?
Kalo sudah berumah tangga, siapa yang paling berkewajiban mencari nafkah? Anak SD juga tahu kalo jawabannnya adalah "Ayah" !
Sempat aku ingat materi dari dosen agamaku yang mengatakan, "Bagi perempuan bila ingin mencari suami, haruslah mencari suami yang bertaqwa-berakhlak-beruang"
Memang kata "beruang" menjadi urutan terakhir, tapi kalo perempuan mencari jodoh yang bertaqwa-berakhlak-beruang, apakah itu engga matre?
Sebenernya sih tiap cewek dasarnya matre, cuma beda penyikapan dan berbeda kadar persentase ke"matre"annya itu.
Bukan hal yang buruk kalo cewek itu matre, asal matre nya engga berlebihan aja. Cewek juga harus mandiri engga selalu "minta" ke cowok, tapi cowok juga harus paham kalo cewek matre itu sudah menjadi rahasia umum yang engga perlu diheboh-heboh kan lagi.
Buat cowok, dominan semua cewek itu matre, engga perlu dihindari, engga perlu dibenci. Selama para cowok engga ng-treat ceweknya secara berlebihan :) kadang cewek matre juga karena cowoknya yang selalu nge"iya" in dan engga tegas.
So rubah deh pandangan soal cewek matre, engga semua yang kelihatannya buruk itu beneran buruk :)
Langganan:
Postingan (Atom)

