Powered By Blogger

27.5.11

Virginitas di Zaman Modern, Pentingkah?

Dahulu, virginitas begitu dijunjung tinggi.
Para wanita selalu menjaga hal tersebut sebagai simbol dari kehormatannya.
Bandingkan dengan kenyataan yang terjadi pada saat ini, apakah virginitas juga masih dianggap penting?
Sebagian orang mungkin masih beranggapan bahwa hal tersebut penting, tapi sebagian lainnya tidak memperdulikan hal itu.
Aku salut dengan perempuan yang masih menjunjung tinggi virginitas mereka.
Bukan berarti yang tidak virgin itu buruk kok, hanya perbedaan pandangan mengenai virginitas saja yang berbeda.
Semua orang berhak melakukan apa yang ingin mereka lakukan, melangkah kemana pun mereka inginkan termasuk dalam hal nya menjaga virginitas.
Alasan sebagian besar perempuan melepas virginitasnya sebelum menikah adalah karena cinta.
Menurutku, "what the hell" dengan cinta?
Jika mengatakan soal cinta memang susah untuk menjelaskannya. Karena pada dasarnya aku bukan orang yang akan melepas virginitas hanya dengan alasan cinta.
Bagi seorang perempuan, pasti akan memiliki rasa bangga dengan status "virgin" yang disandang mereka. Dan aku tidak mau status itu hilang dariku hanya karena alasan "cinta" (terlalu konyol).
Mungkin bakal ada yang bilang, "Kamu belum merasakan, karena itu kamu ngomong kaya gitu"
Tapi aku yakin kok, aku punya ketahanan diri yang kuat buat menolak ajakan masiat yang menggiurkan itu.

Virginitas tetaplah penting dipertahankan (menurutku). Kalau menggunakan contoh real, PSK yang masih perawan (baru) memiliki harga yang lebih tinggi. Bahkan ada yang berani membayar mahal hanya demi tidur dengan seorang perawan. Jika virginitas tidak begitu penting, kenapa ada perbedaan harga? padahal mereka (PSK) yang terbilang baru (perawan) malah tidak berpengalaman dan tidak tahu apa-apa.
Itu salah satu contoh bahwa virginitas memiliki point tersendiri.
Contoh lain yang membuktikan bahwa virginitas penting adalah adanya test virginitas bagi perempuan yang akan menjadi calon mempelai seorang militer. Aku memang tak seberapa tau persis bagaimana detailnya, namun memang ada test seperti itu entah itu hanya dilakukan oleh seluruh tingkat jabatan atau hanya sebagian. Yang jelas, test virginitas itu ada.

Aku tidak akan bernegative thinking terhadap perempuan yang telah melepas keperawanannya, karena menjaga ataupun melepas virginitas itu adalah hak masing-masing individu. Aku hanya takut bahwa lambat laun hal ini tidak dianggap penting lagi untuk perempuan.

17.5.11

sex

Jika membicarakan mengenai sex, akan muncul beberapa emotion berbeda pada setiap individu.
Ada yang tersipu malu-malu enggan membicarakannya, ada yang malah blak-blak an menceritakan mengenai pengalaman mereka mengenai hal itu, ada yang mendengarkan seksama karena penasaran akan hal tersebut, namun tetap saja ada yang cuek dan tidak begitu tertarik mengenai topik ini.

Mungkin pada kenyataannya, seorang Ibu enggan memberikan pengajaran dan pengarahan mendetail terhadap anak-anaknya terlebih putrinya. Menurut para Ibu, hal tersebut akan anak-anak terima ketika anak-anaknya mendapati pelajaran tertentu di sekolah yang nyatanya apa yang diajarkan di sekolah tidak pernah tersampaikan dengan sempurna. Seorang Ibu merasa sangat janggal memberi materi ini terhadap anaknya padahal sebenarnya beliau lah yang dapat memberikan pengarahan terbaik.
Menurutku adanya kejanggalan mengenai ini itu akibat budaya negara kita sendiri yang tidak menganut kebebasan untuk melakukan hubungan sex pranikah (kenyataannya jaman sekarang hal tersebut hampir sudah biasa). Hal tersebut semakin menjadi apabila anak-anak tidak diberi pengarahan cukup masalah sex sejak dini.

Seorang remaja lebih suka membicarakan masalah sex atau hubungan sex yang telah dilaluinya kepada teman sebaya nya. Kenapa bercerita kepada temannya? Karena kejanggalan yang dibuat oleh Ibu mereka sendiri. Para Ibu terus mendoktrin anak-anaknya untuk terus pada jalan yang benar. Yah, memang itu yang seharusnya, seorang Ibu tidak akan membiarkan anaknya terjatuh. Namun harusnya dengan alasan itu pula lah seorang Ibu sebaiknya memberikan pengarahan secara gamblang mengenai sex terhadap anak-anak mereka.

Di jaman edan seperti sekarang, rasanya sudah tidak perlu lagi mendoktrin anak-anak untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar moralitas. Cukup sebaiknya diberi materi cukup, penyelesaian terhadap konflik, dan setiap individu berhak menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan cara mereka sendiri.

Aku bahkan masih ingat ketika aku sudah berumur 17tahun, aku bahkan tidak dapat membedakan benda bernama kondom dengan balon. Bahkan sampe detik ini, aku tidak pernah menyentuh benda itu. Disisi lain aku geli membayangkan apa saja yang bisa diperbuat oleh benda kecil itu, disisi lain aku benar-benar ingin tahu untuk hanya sekedar pengetahuan umumku.

Semoga Ibu-ibu di jaman mendatang juga memiliki pemikiran lebih kritis dan modern untuk tidak membiarkan anak-anak bodoh masalah sex

15.5.11

i'm NOT famous

F - A - M - O -U - S !
What is the meaning..........?


Hidup adalah penuh dengan pilihan di dalamnya.
Dan menjadi "famous" bukanlah salah satu pilihan dalam hidupku.
Suatu ketika sempat seseorang berkata padaku, "you're not famous"
Dalam hati cuma bisa berteriak, "Is it important to me?"
Aku tidak hidup untuk sebuah kepopularitasan, aku hanya ingin berteman. Bersahabat dengan mereka yang bisa menghargai dan menyayangiku tanpa melihat latar belakangku. Tanpa melihat apa yang ku kenakan hari ini, tanpa melihat betapa pintarnya aku, tanpa melihat siapa saja aku bergaul, tanpa melihat bagaimana keluargaku dan seberapa besar rumahku. Tanpa melihat berapa banyak uang yang ku kantongi hari ini, tanpa melihat apa kedaraan ku, tanpa melihat merk apa yang ku beli.
Sungguh menyedihkan jika hidup hanya untuk mengejar popularitas.

Realitanya, memang banyak ditemui "kumpulan/genk" yang beranggotakan orang-orang populer saja. Namun, menurutku, kelompok tersebut tidak menjadi ada karena kesamaan status sebagai orang yang populer. Adanya suatu kelompok, itu tercipta karena adanya "kesamaan". Kesamaan selera, kesukaan, hal yang dibenci, atau bahkan kemampuan. Bukan semata-mata karena kesamaan sama-sama populer.
Mungkin anggota kelompok populer cuma nyambung dengan orang populer juga, sama halnya seperti kelompok orang pintar. Mereka lebih nyaman bercakap, karena mereka merasa kesulitan bercakap dengan orang yang tidak tahu apa-apa.
Bukan berarti terlalu memilih teman/tidak mau berteman dengan siapa saja. Namun, hanya melihat kenyamanan dalam berkomunikasi.
Dan juga berarti orang populer tidak mau berteman dengan orang biasa, itu semua tergantung bagaimana individu itu sendiri.Walaupun, memang dan pasti ada yang hanya mau dengan orang "sama kasta".
Sombong...? maybe, tapi itu adalah pilihan dan hidup adalah pilihan.

Dan aku telah memilih, untuk berteman dengan siapa saja.
Aku tidak perlu menjadi famous untuk hidup :)

Your Life, Your Rules

Do you agree with this picture?

Aku setuju dengan gambar itu.
"My life my rules" menyatakan bahwa hidupku adalah aturanku.
Itu mungkin akan terasa salah apabila dilihat dari arti sempitnya, namun sebenanya kita bisa mengartikan lebih luas lagi.
Menurutku, "My life my rules" adalah aturan yang kubuat untuk kebaikan ku sendiri namun tetap harus memperhatikan faktor-faktor lain. Seperti halnya dengan pilihan dalam hidup.
Kita boleh saja menjadi seseorang yang hidup penuh keangkuhan, penuh keegoisan, atau hidup dengan memilih-milih teman. Itu sudah menjadi pilihan hidup. Terserah saja aku ingin berbuat apa saja, asalkan apa yang ku perbuat hari ini tidak mengganggu orang lain dan tidak melanggar aturan hukum lainnya.
Bebas bukan berarti kita bisa melakukan apa pun yang kita ingini se-enaknya dengan tanpa kontrol.
Hidup ini aturanku, dan aku mengatur hidupku dengan yang baik (menurutku).

"My Life My Rules" , tergantung siapa yang mengartikan.
Siapa saja bisa mengartikannya dalam bentuk yang berbeda.
Namun jika kalimat ini dimaknai negatif, menurutku tidak.