Untuk kedua kali bertemu dengan perempuan semacam ini dan ini yang lebih parah. Perempuan bermuka dua, dengan segala kepura-puraannya. Bahkan kalau dipikir ulang hampir seluruh perkataannya tidak dapat dipercaya. Perempuan yang memakai topeng tegar dan sok jago, namun berhati helokitty nan rapuh. Kebaikannya selama ini tertutup perlahan oleh kebusukan yang selama ini tertutup. Dia membuka satu-per-satu kebusukannya tanpa ia sadari. Menjadi orang yang berbeda di depanku dan menjadi pribadi berbeda di depan sahabatku. Seseorang yang kupikir kuat, seseorang yang kupikir sejalan, namun nyatanya tak semudah semua yang ada di otakku.
Dia perempuan yang berkepribadian ganda, mungkin. Meremehkan semua hal, semua orang, seakan dia adalah mampu segala-galanya. Tidak begitu susah memang untuk membuatnya membuka kedoknya sendiri, hanya membutuhkan pendekatan mendetail kurang dari setahun dan perlahan dia akan membuka semuanya sendiri.
Ternyata, masih ada orang yang seperti itu.
28.12.11
27.10.11
letter for today
Pernahkah kau merasakan bahwa dirimu tidak berharga? Bahkan mungkin bila kau terbuang pun tidak akan yang mengulurkan tangan padamu. Atau bahkan kau mengilustrasikan dirimu bagai koleksi pakaian yg disimpan di gudang karena rusak dan tidak akan diletakkan di bagian paling depan toko untuk dijual, karena bahkan dengan harga gratis tidak akan ada yang memungutmu.
Sungguh menyakitkan apabila orang-orang mengatakan secara terang-terangan bahwa kau tidak cukup mampu, bahwa kau tidak cukup hebat, bahwa kau tidak cukup berada. Tapi juga tak kalah menyakitkan ketika dirimu harus menemui kenyataan bahwa mereka, orang-orang yang tersenyum di depanmu, ternyata menggunjingmu dari belakang.
Menyatakan ketidakmampuan mu atas berbagai hal yang memang faktanya kau pun tidak mampu. Hal yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa orang yang kau sayangi bahkan juga meragukan itu semua.
Apa yang kau lakukan ketika keluargamu mengkhawatirkan masa depanmu dengan anggapan bahwa kau tidak punya kemampuan untuk menuju masa depan? Mungkin kau akan diam, sama seperti aku. Membiarkan mereka beranggapan seperti itu, mencoba mendengar dan memberikan senyuman kecil kepada mereka sambil bergumam dalam hati “terkutuklah mereka!”
Ibuku datang padaku, menceritakan kekhawatiran mereka yang menurutku tidak masuk akal, seolah mereka yang akan menuliskan takdir pada suratan takdirku. Ketika ibu menyatakan hal tersebut, aku menatap wanita separuh baya itu dengan senyuman. Sangat menyakitkan tersenyum memandangnya kala itu. Bahkan aku bisa membaca sesuatu yang tersirat dari cara dia memandangku, dia hanya diam menatapku (yang berarti dia juga mencemaskanku). Tanpa membalas senyuman yang sulit ku suguhkan dari bibirku. Aku hanya menjawab dengan jawaban santai saat itu, seolah aku tidak memperdulikan apa yang orang lain katakan padaku.
Hari ini, aku mencoba berbincang santai pada ibu namun itu hanyalah aktivitas yang membuatku menangis setelahnya. Ibu menjawab perkataan orang lain tanpa perlu orang tersebut mengulang apa yang dia katakan, namun tidak kepadaku. Seolah aku sangat tidak diharapkan. Aku bahkan harus sedikit membentak agar ibu membalas perkataan terakhirku, dan beliau membalas dengan nada yang juga tidak bersahabat.
Aku hanya menghabiskan waktu untuk menangis di kamar dan berdoa supaya kekasihku segera datang dan membawaku berkeliling, kemana saja asal bukan berdiam di rumah ini.
Menangis, mungkin hanya itulah hal yang bisa kulakukan saat ini. Mengingat bahwa aku adalah gadis perempuan yang tidak bisa apa-apa hingga semuanya menganggap aku memang tidak memiliki kelebihan yang mencolok.
Tidak seperti gadis lain pada umumnya, aku sama sekali tidak pernah menyentuh perabotan dapur, tidak heran bahwa aku jelas tidak bisa memasak, tidak bisa membereskan rumah, dan bahkan tidak suka melakukan aktivitas perempuan. Aku tidak bisa berenang, bahkan untuk mengendarai sepeda roda dua saja aku sudah lupa bagaimana memulainya. Aku kurang pandai dalam meredam emosi, tapi aku bersyukur memiliki kekasih yang penuh perhatian dan sangat mengerti watakku.
Kekasihku, adalah salah seorang yang menerima aku dengan penuh seluk beluk kekurangan. Dia menghargaiku, dengan keterbatasan yang nyata padaku. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, bahkan keluargaku akan sangat menyakitkan seperti ini. Apakah memiliki keluarga akan sesakit itu? Apakah keluarga besar memang menyebalkan? Aku bahkan tidak mampu menceritakan hal yang mengganggu ini kepada kekasihku, aku pasti akan penuh isak mengingat apa yang kuperbincangkan dengan ibu waktu itu.
Aku merasa seperti gadis yang tidak berguna. Selama ini aku hanya berusaha selalu patuh dan menjadi gadis baik untuk ibuku. Aku sadar aku tidak bisa memberikan apa-apa sekarang selain memberikan nilai ku yang terkadang ajaib pada ibu, dan etitude seorang anak yang baik. Ibu melarangku bekerja, aku pun menurut. Ibu ingin aku mencari pria yang baik, dan ibu tahu aku selalu mendapatkan pria yang baik. Ibu tidak ingin aku menjadi gadis yang menilai segala sesuatu hanya dari segi materi, dan aku memahaminya serta menjalankan pemahamanku terhadap hidup yang saat ini menjadi dendam untuk kuselesaikan. Selama ini aku hanya berupaya menjadi gadis yang baik menurutku, tapi mungkin hal tersebut belumlah pantas untuk ibuku. Mungkin saat ini ibu hanya bingung mengatakan secara lembut kepadaku bahwa “aku sama sekali tidak berguna”
Aku sedih, jujur aku sedih. Aku tidak pernah mengerti kenapa semua orang seakan mengecamku dengan kalimat-kalimat yang terus merusak jaringan otakku secara perlahan. Ada sedih, marah, menyesal, dan dendam didalam nyawaku saat ini. Aku dendam untuk membuktikannya nanti. Mungkin saat ini, aku hanya akan diam karena menurutku akan sangat tidak pantas untuk mengatakan sekarang juga kepada mereka bahwa yang mereka pikir tentang aku itu tidak benar! Sedangkan aku barulah menjadi seorang pelajar yang tidak memiliki apa-apa ditangan selain ilmu yang baru sedikit kupelajari ini.
“…Suatu saat aka nada era baru, dimana saatnya aku berbalik dan menertawakan teorimu..Suatu saat kau akan menatap mengenaliku, tapi aku hanya akan mengacuhkanmu…”
Untuk ibuku, maaf karena kalimat itu juga ditujukan untukmu. Untuk keluargaku yang sangat kucintai, aku meminta maaf karena memiliki dendam sebesar ini pada kalian. Dendam ini sebesar sakit yang kalian tanamkan perlahan padaku. Tapi aku bukan hewan yang tidak punya hati nurani, aku tidak akan meninggalkan seluruh keluarga besar seperti sampah walaupun sekarang aku beranggapan mereka memperlakukanku seperti itu.
Suatu hari nanti, kalian semua akan tahu kepada siapa kalian menggores luka. Saudara mu ini menangis hingga mata membengkak, dan akan memberikan perwujudan yang tidak akan kalian duga. Aku akan mencari pekerjaan serta kehidupan dibelahan bumi yang lain sehingga aku tidak perlu mengingat kesedihan ini. Jika aku berhasil nanti, eits tidak, yang benar adalah aku pasti akan berhasil dan ketika aku berhasil beberapa waktu kedepan nanti, aku akan memilih untuk merantau. Kemana pun takdir membawaku, kemana pun hidup ini bisa berjalan seperti dendamku hari ini. Aku akan merantau jauh meninggalkan kalian dengan waktu yang tidak sebentar, hingga suatu saat kalian akan sadar. Aku bahkan memiliki penghasilan puluhan kali lipat lebih tinggi daripada yang kalian bayangkan, aku akan memiliki rumah dan tanah dimanapun aku akan menginjakkan kaki. Aku akan tinggal pada kediamanku yang nyaman, atau mungkin aku akan menempati apartemen paling megah dan mewah dari yang pernah kalian kunjungi.
Ibuku, aku akan meninggalkanmu cukup lama. Aku berencana merantau dan tidak akan pulang sampai aku membawa calon menantu yang pasti untukmu. Aku mencintaimu, dan aku akan menangggung seluruh keperluanmu dan adikku. Aku hanya ingin membuatmu bangga dan kau bisa merasakan, ketika aku membuatmu bangga, kau tidak bisa dengan leluasa berbincang padaku, memelukku, menatapku atau bahkan mengabaikan ucapanku seperti hari ini. Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin menciumu, tidak ingin memelukmu, seperti hari ini.
18.9.11
Tentang Kekasihku
Awalnya sih berawal bener-bener iseng dikenalin sama temen yang kebetulan lagi telp an, eh kenalan di telp lanjut sms. Bener-bener iseng !! Sms an juga isinya masih datar-datar aja, bahkan waktu itu aku masih pengen buat sendiri dulu. Sms-an ma dia itu nyambung. Diajak ngobrol asik, diajak bercanda enak, diajak ngobrol agak berat juga nyambung :)
Keluar beberapa kali dan akhrinya pacaran setelah sebulan kenal :)
Awalnya gak ada pikiran pacaran sama anak yang kuliah di luar kota, bener-bener kayaknya semua nya udah diatur sama Tuhan.
Riyo (namanya) buakan tipe anak yang sok perhatian, bukan cowok yang lebay dan bukan tukang gombal. Satu hal yang paling susah, nih pacar geniiiiiiiiiiiitttt banget ke cewek-cewek. Awalnya seh emang sebel, perlu adaptasi ma sifatnya yang genit. Lambat laun ya aku cuekin emang dasarnya dia genit -___-" mau diapa-apain juga tetep genit !
Yang paling gak nguatin juga nih pacar suka janji-janji palsu. Karena mungkin aku keseringan marah, sampek kadang aku gak ngereken waktu dia batalin janji kesekian kalinya. Sampe capek lhooo.
Sering berantem karena aku nya yang suka marah, untungnya dia masih sabar sampai sekarang. Meskipun umur pacaran kami cuman 3bulan, tapi aku harap bakal langgeng.
Nih cowok bener-bener menghargai aku, enggak pernah maksain aku ngelakuin sesuatu yang aku enggak suka. Cara dia menghargai aku itu bener-bener bikin meleleh hha :p
Sering banget aku ngucapin kata "putus", tapi dia selalu kembali melelehkanku dengan kelakuannya. Banyak pengorbanannya yang gak pernah aku dapet sebelumnya dari para mantan. Terkadang aku memposisikan diriku pada dirinya, dan jujur kalo aku menghadapi seseorang yang memiliki sifat sekeras batu seperti diriku sendiri pasti udah aku tinggalin.
Untungnya Rio enggak :) Semoga Rio selalu sabar Tuhan, dan semoga aku bisa mengontrol diri supaya aku enggak jahat lagi sama Rio :*
Aku dan Rio itu LDR lhoooh, tapi aku ngerasa sejauh apapun kami, aku selalu ngerasa dia akan selalu ada buat aku, buat ngedengerin cerewetku, buat mendapat amarahku yang gak sepenuhnya salah dia :')
Satu lagi, ketika aku naksir sama seseorang aku pasti nyari informasi soal orang itu termasuk Rio. Tapi lebih sering aku mendapat informasi lebih dahulu sebelum si Rio cerita atau bahkan Rio gak cerita kalo enggak aku sindir. I know you more than you know honey, i just wait you to speak ! Sayang sekali, Rio tipe cowok yang berbicara setelah aku tanya.
Rio memanjakanku, dan aku baru menemukan yang seperti ini :) *Alhamdulillah yah*
Keluar beberapa kali dan akhrinya pacaran setelah sebulan kenal :)
Awalnya gak ada pikiran pacaran sama anak yang kuliah di luar kota, bener-bener kayaknya semua nya udah diatur sama Tuhan.
Riyo (namanya) buakan tipe anak yang sok perhatian, bukan cowok yang lebay dan bukan tukang gombal. Satu hal yang paling susah, nih pacar geniiiiiiiiiiiitttt banget ke cewek-cewek. Awalnya seh emang sebel, perlu adaptasi ma sifatnya yang genit. Lambat laun ya aku cuekin emang dasarnya dia genit -___-" mau diapa-apain juga tetep genit !
Yang paling gak nguatin juga nih pacar suka janji-janji palsu. Karena mungkin aku keseringan marah, sampek kadang aku gak ngereken waktu dia batalin janji kesekian kalinya. Sampe capek lhooo.
Sering berantem karena aku nya yang suka marah, untungnya dia masih sabar sampai sekarang. Meskipun umur pacaran kami cuman 3bulan, tapi aku harap bakal langgeng.
Nih cowok bener-bener menghargai aku, enggak pernah maksain aku ngelakuin sesuatu yang aku enggak suka. Cara dia menghargai aku itu bener-bener bikin meleleh hha :p
Sering banget aku ngucapin kata "putus", tapi dia selalu kembali melelehkanku dengan kelakuannya. Banyak pengorbanannya yang gak pernah aku dapet sebelumnya dari para mantan. Terkadang aku memposisikan diriku pada dirinya, dan jujur kalo aku menghadapi seseorang yang memiliki sifat sekeras batu seperti diriku sendiri pasti udah aku tinggalin.
Untungnya Rio enggak :) Semoga Rio selalu sabar Tuhan, dan semoga aku bisa mengontrol diri supaya aku enggak jahat lagi sama Rio :*
Aku dan Rio itu LDR lhoooh, tapi aku ngerasa sejauh apapun kami, aku selalu ngerasa dia akan selalu ada buat aku, buat ngedengerin cerewetku, buat mendapat amarahku yang gak sepenuhnya salah dia :')
Satu lagi, ketika aku naksir sama seseorang aku pasti nyari informasi soal orang itu termasuk Rio. Tapi lebih sering aku mendapat informasi lebih dahulu sebelum si Rio cerita atau bahkan Rio gak cerita kalo enggak aku sindir. I know you more than you know honey, i just wait you to speak ! Sayang sekali, Rio tipe cowok yang berbicara setelah aku tanya.
Rio memanjakanku, dan aku baru menemukan yang seperti ini :) *Alhamdulillah yah*
Aku
Kali ini aku akan bercerita sedikit tentang diriku sendiri :p
Aku manjadi anak semata wayang selama 7 tahun hingga pada umur 8 tahun aku memiliki seorang adik perempuan dan statusku berubah menjadi "kakak"
Aku tinggal bersama kedua orang tua dan nenekku, juga adikku setelah dia lahir.
Aku tumbuh menjadi anak yang manja, penakut dan lemah. Mungkin itu akibat selama 7 tahun apa yang aku minta terpenuhi dirumah. Suasana rumah yang tidak pernah kejam padaku kecuali almarhum nenekku yang selalu membuatku marah tiap harinya. Beliau begitu menyayangiku hingga tidak mengizinkanku untuk bermain dengan sembarang teman, selalu menyuruhku makan setiap waktu dan aku selalu membentak beliau. Selalu ada pertengkaran di tiap hari karena permasalahan "makan". Hal tersebut membuatku tumbuh menjadi anak yang pemarah.
Berjalannya waktu, aku bersekolah disana-sini. Menemui beragam macam orang dengan berbagai sifat dan karakter. Perlahan aku belajar dari seseorang untuk menjadi egois. Kala ketika itu aku menemui orang yang sangat ceplas-ceplos dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Banyak diantara mereka bahkan mencari kepentingan pribadi meskipun itu tidak menguntungkan orang lain. Akhirnya aku mengambil keputusan bahwa "Hanya aku yang dapat menyelamatkan hak ku sendiri. Mereka tidak menghargai orang lain jadi buat apa aku menghargai mereka. Mereka mencari kepuasan pribadi jadi aku juga tidak boleh lemah dengan hanya mengiyakan semuanya. Aku bukan kambing congek yang menuruti sesuatu yang tidak menguntungkanku. Dunia ini engga seramah keadaan rumah yang selalu jujur padaku dan mengutamakan aku, hanya aku yang dapat menolong diriku sendiri. Jadi aku harus segera bersikap sebelum mereka bisa seenaknya menganggapku bodoh"
Aku sempat belajar hidup dari cinta. Cinta monyet dimana saat ini aku sangat menyesal akan itu. Namun cinta monyet yang menjadi kebodohanku di masa lalu itu mengajarkanku bahwa "Cinta semakin dikejar semakin tak kau dapat. Terkadang akan banyak kau temui kebohongan terselip di dalamnya. Beragam pria kutemui dengan beragam karakter yang berbeda. Tidak semua pria yang menyatakan menyayangimu itu jujur. Lidah tak bertulang, persentase untuk berbohong sangatlah besar, apalagi hanya dengan mengandalkan kata cinta"
Aku belajar banyak dari masa kecil ku hingga saat ini, aku mencoba mengatur semuanya. Pura-pura diam padahal aku tahu apa isi hati mereka. Pura-pura diam namun perlahan menjauhi mereka yang aku tidak suka.Belajar untuk munafik? tidak ! tentu tidak. Aku hanya menjalankan semuanya dengan caraku sendiri. My Life My Rules. Tidak perlu banyak bicara untuk menggambarkan ketidak sukaan kepada seseorang. Just keep silent. Karena hanya aku yang paling mengenal diriku sendiri.
Aku manjadi anak semata wayang selama 7 tahun hingga pada umur 8 tahun aku memiliki seorang adik perempuan dan statusku berubah menjadi "kakak"
Aku tinggal bersama kedua orang tua dan nenekku, juga adikku setelah dia lahir.
Aku tumbuh menjadi anak yang manja, penakut dan lemah. Mungkin itu akibat selama 7 tahun apa yang aku minta terpenuhi dirumah. Suasana rumah yang tidak pernah kejam padaku kecuali almarhum nenekku yang selalu membuatku marah tiap harinya. Beliau begitu menyayangiku hingga tidak mengizinkanku untuk bermain dengan sembarang teman, selalu menyuruhku makan setiap waktu dan aku selalu membentak beliau. Selalu ada pertengkaran di tiap hari karena permasalahan "makan". Hal tersebut membuatku tumbuh menjadi anak yang pemarah.
Berjalannya waktu, aku bersekolah disana-sini. Menemui beragam macam orang dengan berbagai sifat dan karakter. Perlahan aku belajar dari seseorang untuk menjadi egois. Kala ketika itu aku menemui orang yang sangat ceplas-ceplos dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Banyak diantara mereka bahkan mencari kepentingan pribadi meskipun itu tidak menguntungkan orang lain. Akhirnya aku mengambil keputusan bahwa "Hanya aku yang dapat menyelamatkan hak ku sendiri. Mereka tidak menghargai orang lain jadi buat apa aku menghargai mereka. Mereka mencari kepuasan pribadi jadi aku juga tidak boleh lemah dengan hanya mengiyakan semuanya. Aku bukan kambing congek yang menuruti sesuatu yang tidak menguntungkanku. Dunia ini engga seramah keadaan rumah yang selalu jujur padaku dan mengutamakan aku, hanya aku yang dapat menolong diriku sendiri. Jadi aku harus segera bersikap sebelum mereka bisa seenaknya menganggapku bodoh"
Aku sempat belajar hidup dari cinta. Cinta monyet dimana saat ini aku sangat menyesal akan itu. Namun cinta monyet yang menjadi kebodohanku di masa lalu itu mengajarkanku bahwa "Cinta semakin dikejar semakin tak kau dapat. Terkadang akan banyak kau temui kebohongan terselip di dalamnya. Beragam pria kutemui dengan beragam karakter yang berbeda. Tidak semua pria yang menyatakan menyayangimu itu jujur. Lidah tak bertulang, persentase untuk berbohong sangatlah besar, apalagi hanya dengan mengandalkan kata cinta"
Aku belajar banyak dari masa kecil ku hingga saat ini, aku mencoba mengatur semuanya. Pura-pura diam padahal aku tahu apa isi hati mereka. Pura-pura diam namun perlahan menjauhi mereka yang aku tidak suka.Belajar untuk munafik? tidak ! tentu tidak. Aku hanya menjalankan semuanya dengan caraku sendiri. My Life My Rules. Tidak perlu banyak bicara untuk menggambarkan ketidak sukaan kepada seseorang. Just keep silent. Karena hanya aku yang paling mengenal diriku sendiri.
Stupid because of love..?
Cinta itu tidak pernah membuat seseorang menjadi bodoh namun yang ada sekarang seseorang manjadikan alasan "cinta" akibat kesalahannya. Padahal yang sebenarnya terjadi, itu adalah kebodohan orang itu sendiri. Cinta tidak pernah membutakan, cinta tidak pernah membuat kita bodoh. Jadi jika kau terjerumus akan kesalahanmmu sendiri jangan salahkan cinta.
Orang-orang biasa menutupi kebodohan mereka dengan mengambing hitamkan sesuatu/seseorang. Sama halnya ketika mereka menutup-nutupi kebodohan mereka dengan mengambing hitamkan cinta.
Logiskah?
Coba dipikir-pikir lagi. Janganlah menyalahkan cinta atas kesalahan yang sepenuhnya adalah salahmu.
Kau akan terus terkurung dalam tengkurung jika hanya menyalahkan cinta dan tidak mengakui kebodohanmu sendiri.Memang sangat sulit mengakui kebodohan pribadi dan bangkit dari yang telah lalu, tapi yakinlah bahwa hal itu akan penjadi akar yang kuat untuk besok sehingga kau tidak akan lagi menyalahkan cinta atas kebodohan pribadimu.
Cinta itu hadir secara alami, namun mereka yang pintar memainkan hati dan perasaan lah yang menang dan bisa menaklukkan cinta.
Orang-orang biasa menutupi kebodohan mereka dengan mengambing hitamkan sesuatu/seseorang. Sama halnya ketika mereka menutup-nutupi kebodohan mereka dengan mengambing hitamkan cinta.
Logiskah?
Coba dipikir-pikir lagi. Janganlah menyalahkan cinta atas kesalahan yang sepenuhnya adalah salahmu.
Kau akan terus terkurung dalam tengkurung jika hanya menyalahkan cinta dan tidak mengakui kebodohanmu sendiri.Memang sangat sulit mengakui kebodohan pribadi dan bangkit dari yang telah lalu, tapi yakinlah bahwa hal itu akan penjadi akar yang kuat untuk besok sehingga kau tidak akan lagi menyalahkan cinta atas kebodohan pribadimu.
Cinta itu hadir secara alami, namun mereka yang pintar memainkan hati dan perasaan lah yang menang dan bisa menaklukkan cinta.
Life Style
Life Style adalah salah satu topik yang engga akan selesai dibahas. Banyak hal-hal menarik di dalamnya. Bahkan tanpa kita(biasanya para wanita) sadari bahwa sebagian besar bahan gosip adalah mengenai lifestyle.
Mengenai siapa mereka, pakaian apa yang mereka pahai, merk apa yang selalu menggantung di tiap detail yang mereka kenakan, dimana tempat tongkrongan mereka, siapa pacar mereka, apa olahraga kesukaan mereka, apa merk handphone mereka, mobil apa yang mereka gunakan, kemana mereka pergi berlibur, dan lain-lain.
Tahukah kalian, aku bahkan pernah berhenti mendekati pria karena masalah yang satu ini "lifestyle". Ini bukan berarti minder atau tidak percaya diri. Namun, aku hanya berfikir akan perbedaan lifestyle kami yang terlalu jauh.
Seperti contoh simple nya, lelaki itu menyukai dugem sedangkan aku tidak. Apakah jika suatu saat dia mengajakku untuk dugem dan aku pasti akan menolak. Aku akan banyak memiliki ratusan negative thinking ketika dia dugem tanpa adanya aku. Kenapa? karena aku tidak suka kegiatan itu, ketidak sukaan ku terhadap suatu hal tentu karena aku sudah menganggapnya negative. Dengan kata lain, aku bisa saja menghabiskan malam penuh kekhawatiran akan sesuatu yang engga sepenuhnya nyata.
Contoh lain adalah ketika aku ingin menghabiskan waktu ke toko buku dan dia bukan lelaki yang suka ke toko buku. Aku bahkan berpikir bahwa dia pasti akan meninggalkanku nongkrong dengan teman-teman nya selama aku asyik membaca buku.
Terlalu banyak perbedaan lifestyle yang terkadang menjadi penghalang yang mendasar. Seperti tembok tinggi yang transparan yang sering dianggap remeh awalnya. Banyak yang berpendapat "oh please, it just lifestyle means nothing. you have love" , namun tidak menurutku. Love can delete the big walls? bullshit--"
Mengenai siapa mereka, pakaian apa yang mereka pahai, merk apa yang selalu menggantung di tiap detail yang mereka kenakan, dimana tempat tongkrongan mereka, siapa pacar mereka, apa olahraga kesukaan mereka, apa merk handphone mereka, mobil apa yang mereka gunakan, kemana mereka pergi berlibur, dan lain-lain.
Tahukah kalian, aku bahkan pernah berhenti mendekati pria karena masalah yang satu ini "lifestyle". Ini bukan berarti minder atau tidak percaya diri. Namun, aku hanya berfikir akan perbedaan lifestyle kami yang terlalu jauh.
Seperti contoh simple nya, lelaki itu menyukai dugem sedangkan aku tidak. Apakah jika suatu saat dia mengajakku untuk dugem dan aku pasti akan menolak. Aku akan banyak memiliki ratusan negative thinking ketika dia dugem tanpa adanya aku. Kenapa? karena aku tidak suka kegiatan itu, ketidak sukaan ku terhadap suatu hal tentu karena aku sudah menganggapnya negative. Dengan kata lain, aku bisa saja menghabiskan malam penuh kekhawatiran akan sesuatu yang engga sepenuhnya nyata.
Contoh lain adalah ketika aku ingin menghabiskan waktu ke toko buku dan dia bukan lelaki yang suka ke toko buku. Aku bahkan berpikir bahwa dia pasti akan meninggalkanku nongkrong dengan teman-teman nya selama aku asyik membaca buku.
Terlalu banyak perbedaan lifestyle yang terkadang menjadi penghalang yang mendasar. Seperti tembok tinggi yang transparan yang sering dianggap remeh awalnya. Banyak yang berpendapat "oh please, it just lifestyle means nothing. you have love" , namun tidak menurutku. Love can delete the big walls? bullshit--"
cewek matre
Cewek matre...?
Memang kenapa kalo matre?
Apa cewek matre itu buruk? hina? enggak juga kok --"
Logisnya yah, hari gini mana ada sih cewek gak matre??
Mau nyari kemana buat nemuin cewek enggak matreeee?
80% cewek itu pasti matre, walaupun banyak yang ngaku "aku bukan cewek matre" padahal kalo diperhatikan bener-bener pasti tuh cewek punya kadar "matre" walaupun gak 50%
Menurut kalian, ketika cewek berkencan sama cowok siapa yang bayarin? siapa yang menjemput? COWOK khan? masak cewek?
Kalo sudah berumah tangga, siapa yang paling berkewajiban mencari nafkah? Anak SD juga tahu kalo jawabannnya adalah "Ayah" !
Sempat aku ingat materi dari dosen agamaku yang mengatakan, "Bagi perempuan bila ingin mencari suami, haruslah mencari suami yang bertaqwa-berakhlak-beruang"
Memang kata "beruang" menjadi urutan terakhir, tapi kalo perempuan mencari jodoh yang bertaqwa-berakhlak-beruang, apakah itu engga matre?
Sebenernya sih tiap cewek dasarnya matre, cuma beda penyikapan dan berbeda kadar persentase ke"matre"annya itu.
Bukan hal yang buruk kalo cewek itu matre, asal matre nya engga berlebihan aja. Cewek juga harus mandiri engga selalu "minta" ke cowok, tapi cowok juga harus paham kalo cewek matre itu sudah menjadi rahasia umum yang engga perlu diheboh-heboh kan lagi.
Buat cowok, dominan semua cewek itu matre, engga perlu dihindari, engga perlu dibenci. Selama para cowok engga ng-treat ceweknya secara berlebihan :) kadang cewek matre juga karena cowoknya yang selalu nge"iya" in dan engga tegas.
So rubah deh pandangan soal cewek matre, engga semua yang kelihatannya buruk itu beneran buruk :)
Memang kenapa kalo matre?
Apa cewek matre itu buruk? hina? enggak juga kok --"
Logisnya yah, hari gini mana ada sih cewek gak matre??
Mau nyari kemana buat nemuin cewek enggak matreeee?
80% cewek itu pasti matre, walaupun banyak yang ngaku "aku bukan cewek matre" padahal kalo diperhatikan bener-bener pasti tuh cewek punya kadar "matre" walaupun gak 50%
Menurut kalian, ketika cewek berkencan sama cowok siapa yang bayarin? siapa yang menjemput? COWOK khan? masak cewek?
Kalo sudah berumah tangga, siapa yang paling berkewajiban mencari nafkah? Anak SD juga tahu kalo jawabannnya adalah "Ayah" !
Sempat aku ingat materi dari dosen agamaku yang mengatakan, "Bagi perempuan bila ingin mencari suami, haruslah mencari suami yang bertaqwa-berakhlak-beruang"
Memang kata "beruang" menjadi urutan terakhir, tapi kalo perempuan mencari jodoh yang bertaqwa-berakhlak-beruang, apakah itu engga matre?
Sebenernya sih tiap cewek dasarnya matre, cuma beda penyikapan dan berbeda kadar persentase ke"matre"annya itu.
Bukan hal yang buruk kalo cewek itu matre, asal matre nya engga berlebihan aja. Cewek juga harus mandiri engga selalu "minta" ke cowok, tapi cowok juga harus paham kalo cewek matre itu sudah menjadi rahasia umum yang engga perlu diheboh-heboh kan lagi.
Buat cowok, dominan semua cewek itu matre, engga perlu dihindari, engga perlu dibenci. Selama para cowok engga ng-treat ceweknya secara berlebihan :) kadang cewek matre juga karena cowoknya yang selalu nge"iya" in dan engga tegas.
So rubah deh pandangan soal cewek matre, engga semua yang kelihatannya buruk itu beneran buruk :)
27.5.11
Virginitas di Zaman Modern, Pentingkah?
Dahulu, virginitas begitu dijunjung tinggi.
Para wanita selalu menjaga hal tersebut sebagai simbol dari kehormatannya.
Bandingkan dengan kenyataan yang terjadi pada saat ini, apakah virginitas juga masih dianggap penting?
Sebagian orang mungkin masih beranggapan bahwa hal tersebut penting, tapi sebagian lainnya tidak memperdulikan hal itu.
Aku salut dengan perempuan yang masih menjunjung tinggi virginitas mereka.
Bukan berarti yang tidak virgin itu buruk kok, hanya perbedaan pandangan mengenai virginitas saja yang berbeda.
Semua orang berhak melakukan apa yang ingin mereka lakukan, melangkah kemana pun mereka inginkan termasuk dalam hal nya menjaga virginitas.
Alasan sebagian besar perempuan melepas virginitasnya sebelum menikah adalah karena cinta.
Menurutku, "what the hell" dengan cinta?
Jika mengatakan soal cinta memang susah untuk menjelaskannya. Karena pada dasarnya aku bukan orang yang akan melepas virginitas hanya dengan alasan cinta.
Bagi seorang perempuan, pasti akan memiliki rasa bangga dengan status "virgin" yang disandang mereka. Dan aku tidak mau status itu hilang dariku hanya karena alasan "cinta" (terlalu konyol).
Mungkin bakal ada yang bilang, "Kamu belum merasakan, karena itu kamu ngomong kaya gitu"
Tapi aku yakin kok, aku punya ketahanan diri yang kuat buat menolak ajakan masiat yang menggiurkan itu.
Virginitas tetaplah penting dipertahankan (menurutku). Kalau menggunakan contoh real, PSK yang masih perawan (baru) memiliki harga yang lebih tinggi. Bahkan ada yang berani membayar mahal hanya demi tidur dengan seorang perawan. Jika virginitas tidak begitu penting, kenapa ada perbedaan harga? padahal mereka (PSK) yang terbilang baru (perawan) malah tidak berpengalaman dan tidak tahu apa-apa.
Itu salah satu contoh bahwa virginitas memiliki point tersendiri.
Contoh lain yang membuktikan bahwa virginitas penting adalah adanya test virginitas bagi perempuan yang akan menjadi calon mempelai seorang militer. Aku memang tak seberapa tau persis bagaimana detailnya, namun memang ada test seperti itu entah itu hanya dilakukan oleh seluruh tingkat jabatan atau hanya sebagian. Yang jelas, test virginitas itu ada.
Aku tidak akan bernegative thinking terhadap perempuan yang telah melepas keperawanannya, karena menjaga ataupun melepas virginitas itu adalah hak masing-masing individu. Aku hanya takut bahwa lambat laun hal ini tidak dianggap penting lagi untuk perempuan.
Para wanita selalu menjaga hal tersebut sebagai simbol dari kehormatannya.
Bandingkan dengan kenyataan yang terjadi pada saat ini, apakah virginitas juga masih dianggap penting?
Sebagian orang mungkin masih beranggapan bahwa hal tersebut penting, tapi sebagian lainnya tidak memperdulikan hal itu.
Aku salut dengan perempuan yang masih menjunjung tinggi virginitas mereka.
Bukan berarti yang tidak virgin itu buruk kok, hanya perbedaan pandangan mengenai virginitas saja yang berbeda.
Semua orang berhak melakukan apa yang ingin mereka lakukan, melangkah kemana pun mereka inginkan termasuk dalam hal nya menjaga virginitas.
Alasan sebagian besar perempuan melepas virginitasnya sebelum menikah adalah karena cinta.
Menurutku, "what the hell" dengan cinta?
Jika mengatakan soal cinta memang susah untuk menjelaskannya. Karena pada dasarnya aku bukan orang yang akan melepas virginitas hanya dengan alasan cinta.
Bagi seorang perempuan, pasti akan memiliki rasa bangga dengan status "virgin" yang disandang mereka. Dan aku tidak mau status itu hilang dariku hanya karena alasan "cinta" (terlalu konyol).
Mungkin bakal ada yang bilang, "Kamu belum merasakan, karena itu kamu ngomong kaya gitu"
Tapi aku yakin kok, aku punya ketahanan diri yang kuat buat menolak ajakan masiat yang menggiurkan itu.
Virginitas tetaplah penting dipertahankan (menurutku). Kalau menggunakan contoh real, PSK yang masih perawan (baru) memiliki harga yang lebih tinggi. Bahkan ada yang berani membayar mahal hanya demi tidur dengan seorang perawan. Jika virginitas tidak begitu penting, kenapa ada perbedaan harga? padahal mereka (PSK) yang terbilang baru (perawan) malah tidak berpengalaman dan tidak tahu apa-apa.
Itu salah satu contoh bahwa virginitas memiliki point tersendiri.
Contoh lain yang membuktikan bahwa virginitas penting adalah adanya test virginitas bagi perempuan yang akan menjadi calon mempelai seorang militer. Aku memang tak seberapa tau persis bagaimana detailnya, namun memang ada test seperti itu entah itu hanya dilakukan oleh seluruh tingkat jabatan atau hanya sebagian. Yang jelas, test virginitas itu ada.
Aku tidak akan bernegative thinking terhadap perempuan yang telah melepas keperawanannya, karena menjaga ataupun melepas virginitas itu adalah hak masing-masing individu. Aku hanya takut bahwa lambat laun hal ini tidak dianggap penting lagi untuk perempuan.
17.5.11
sex
Jika membicarakan mengenai sex, akan muncul beberapa emotion berbeda pada setiap individu.
Ada yang tersipu malu-malu enggan membicarakannya, ada yang malah blak-blak an menceritakan mengenai pengalaman mereka mengenai hal itu, ada yang mendengarkan seksama karena penasaran akan hal tersebut, namun tetap saja ada yang cuek dan tidak begitu tertarik mengenai topik ini.
Mungkin pada kenyataannya, seorang Ibu enggan memberikan pengajaran dan pengarahan mendetail terhadap anak-anaknya terlebih putrinya. Menurut para Ibu, hal tersebut akan anak-anak terima ketika anak-anaknya mendapati pelajaran tertentu di sekolah yang nyatanya apa yang diajarkan di sekolah tidak pernah tersampaikan dengan sempurna. Seorang Ibu merasa sangat janggal memberi materi ini terhadap anaknya padahal sebenarnya beliau lah yang dapat memberikan pengarahan terbaik.
Menurutku adanya kejanggalan mengenai ini itu akibat budaya negara kita sendiri yang tidak menganut kebebasan untuk melakukan hubungan sex pranikah (kenyataannya jaman sekarang hal tersebut hampir sudah biasa). Hal tersebut semakin menjadi apabila anak-anak tidak diberi pengarahan cukup masalah sex sejak dini.
Seorang remaja lebih suka membicarakan masalah sex atau hubungan sex yang telah dilaluinya kepada teman sebaya nya. Kenapa bercerita kepada temannya? Karena kejanggalan yang dibuat oleh Ibu mereka sendiri. Para Ibu terus mendoktrin anak-anaknya untuk terus pada jalan yang benar. Yah, memang itu yang seharusnya, seorang Ibu tidak akan membiarkan anaknya terjatuh. Namun harusnya dengan alasan itu pula lah seorang Ibu sebaiknya memberikan pengarahan secara gamblang mengenai sex terhadap anak-anak mereka.
Di jaman edan seperti sekarang, rasanya sudah tidak perlu lagi mendoktrin anak-anak untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar moralitas. Cukup sebaiknya diberi materi cukup, penyelesaian terhadap konflik, dan setiap individu berhak menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan cara mereka sendiri.
Aku bahkan masih ingat ketika aku sudah berumur 17tahun, aku bahkan tidak dapat membedakan benda bernama kondom dengan balon. Bahkan sampe detik ini, aku tidak pernah menyentuh benda itu. Disisi lain aku geli membayangkan apa saja yang bisa diperbuat oleh benda kecil itu, disisi lain aku benar-benar ingin tahu untuk hanya sekedar pengetahuan umumku.
Semoga Ibu-ibu di jaman mendatang juga memiliki pemikiran lebih kritis dan modern untuk tidak membiarkan anak-anak bodoh masalah sex
Ada yang tersipu malu-malu enggan membicarakannya, ada yang malah blak-blak an menceritakan mengenai pengalaman mereka mengenai hal itu, ada yang mendengarkan seksama karena penasaran akan hal tersebut, namun tetap saja ada yang cuek dan tidak begitu tertarik mengenai topik ini.
Mungkin pada kenyataannya, seorang Ibu enggan memberikan pengajaran dan pengarahan mendetail terhadap anak-anaknya terlebih putrinya. Menurut para Ibu, hal tersebut akan anak-anak terima ketika anak-anaknya mendapati pelajaran tertentu di sekolah yang nyatanya apa yang diajarkan di sekolah tidak pernah tersampaikan dengan sempurna. Seorang Ibu merasa sangat janggal memberi materi ini terhadap anaknya padahal sebenarnya beliau lah yang dapat memberikan pengarahan terbaik.
Menurutku adanya kejanggalan mengenai ini itu akibat budaya negara kita sendiri yang tidak menganut kebebasan untuk melakukan hubungan sex pranikah (kenyataannya jaman sekarang hal tersebut hampir sudah biasa). Hal tersebut semakin menjadi apabila anak-anak tidak diberi pengarahan cukup masalah sex sejak dini.
Seorang remaja lebih suka membicarakan masalah sex atau hubungan sex yang telah dilaluinya kepada teman sebaya nya. Kenapa bercerita kepada temannya? Karena kejanggalan yang dibuat oleh Ibu mereka sendiri. Para Ibu terus mendoktrin anak-anaknya untuk terus pada jalan yang benar. Yah, memang itu yang seharusnya, seorang Ibu tidak akan membiarkan anaknya terjatuh. Namun harusnya dengan alasan itu pula lah seorang Ibu sebaiknya memberikan pengarahan secara gamblang mengenai sex terhadap anak-anak mereka.
Di jaman edan seperti sekarang, rasanya sudah tidak perlu lagi mendoktrin anak-anak untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar moralitas. Cukup sebaiknya diberi materi cukup, penyelesaian terhadap konflik, dan setiap individu berhak menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan cara mereka sendiri.
Aku bahkan masih ingat ketika aku sudah berumur 17tahun, aku bahkan tidak dapat membedakan benda bernama kondom dengan balon. Bahkan sampe detik ini, aku tidak pernah menyentuh benda itu. Disisi lain aku geli membayangkan apa saja yang bisa diperbuat oleh benda kecil itu, disisi lain aku benar-benar ingin tahu untuk hanya sekedar pengetahuan umumku.
Semoga Ibu-ibu di jaman mendatang juga memiliki pemikiran lebih kritis dan modern untuk tidak membiarkan anak-anak bodoh masalah sex
15.5.11
i'm NOT famous
F - A - M - O -U - S !
What is the meaning..........?
Hidup adalah penuh dengan pilihan di dalamnya.
Dan menjadi "famous" bukanlah salah satu pilihan dalam hidupku.
Suatu ketika sempat seseorang berkata padaku, "you're not famous"
Dalam hati cuma bisa berteriak, "Is it important to me?"
Aku tidak hidup untuk sebuah kepopularitasan, aku hanya ingin berteman. Bersahabat dengan mereka yang bisa menghargai dan menyayangiku tanpa melihat latar belakangku. Tanpa melihat apa yang ku kenakan hari ini, tanpa melihat betapa pintarnya aku, tanpa melihat siapa saja aku bergaul, tanpa melihat bagaimana keluargaku dan seberapa besar rumahku. Tanpa melihat berapa banyak uang yang ku kantongi hari ini, tanpa melihat apa kedaraan ku, tanpa melihat merk apa yang ku beli.
Sungguh menyedihkan jika hidup hanya untuk mengejar popularitas.
Realitanya, memang banyak ditemui "kumpulan/genk" yang beranggotakan orang-orang populer saja. Namun, menurutku, kelompok tersebut tidak menjadi ada karena kesamaan status sebagai orang yang populer. Adanya suatu kelompok, itu tercipta karena adanya "kesamaan". Kesamaan selera, kesukaan, hal yang dibenci, atau bahkan kemampuan. Bukan semata-mata karena kesamaan sama-sama populer.
Mungkin anggota kelompok populer cuma nyambung dengan orang populer juga, sama halnya seperti kelompok orang pintar. Mereka lebih nyaman bercakap, karena mereka merasa kesulitan bercakap dengan orang yang tidak tahu apa-apa.
Bukan berarti terlalu memilih teman/tidak mau berteman dengan siapa saja. Namun, hanya melihat kenyamanan dalam berkomunikasi.
Dan juga berarti orang populer tidak mau berteman dengan orang biasa, itu semua tergantung bagaimana individu itu sendiri.Walaupun, memang dan pasti ada yang hanya mau dengan orang "sama kasta".
Sombong...? maybe, tapi itu adalah pilihan dan hidup adalah pilihan.
Dan aku telah memilih, untuk berteman dengan siapa saja.
Aku tidak perlu menjadi famous untuk hidup :)
What is the meaning..........?
Hidup adalah penuh dengan pilihan di dalamnya.
Dan menjadi "famous" bukanlah salah satu pilihan dalam hidupku.
Suatu ketika sempat seseorang berkata padaku, "you're not famous"
Dalam hati cuma bisa berteriak, "Is it important to me?"
Aku tidak hidup untuk sebuah kepopularitasan, aku hanya ingin berteman. Bersahabat dengan mereka yang bisa menghargai dan menyayangiku tanpa melihat latar belakangku. Tanpa melihat apa yang ku kenakan hari ini, tanpa melihat betapa pintarnya aku, tanpa melihat siapa saja aku bergaul, tanpa melihat bagaimana keluargaku dan seberapa besar rumahku. Tanpa melihat berapa banyak uang yang ku kantongi hari ini, tanpa melihat apa kedaraan ku, tanpa melihat merk apa yang ku beli.
Sungguh menyedihkan jika hidup hanya untuk mengejar popularitas.
Realitanya, memang banyak ditemui "kumpulan/genk" yang beranggotakan orang-orang populer saja. Namun, menurutku, kelompok tersebut tidak menjadi ada karena kesamaan status sebagai orang yang populer. Adanya suatu kelompok, itu tercipta karena adanya "kesamaan". Kesamaan selera, kesukaan, hal yang dibenci, atau bahkan kemampuan. Bukan semata-mata karena kesamaan sama-sama populer.
Mungkin anggota kelompok populer cuma nyambung dengan orang populer juga, sama halnya seperti kelompok orang pintar. Mereka lebih nyaman bercakap, karena mereka merasa kesulitan bercakap dengan orang yang tidak tahu apa-apa.
Bukan berarti terlalu memilih teman/tidak mau berteman dengan siapa saja. Namun, hanya melihat kenyamanan dalam berkomunikasi.
Dan juga berarti orang populer tidak mau berteman dengan orang biasa, itu semua tergantung bagaimana individu itu sendiri.Walaupun, memang dan pasti ada yang hanya mau dengan orang "sama kasta".
Sombong...? maybe, tapi itu adalah pilihan dan hidup adalah pilihan.
Dan aku telah memilih, untuk berteman dengan siapa saja.
Aku tidak perlu menjadi famous untuk hidup :)
Your Life, Your Rules
Do you agree with this picture?
Aku setuju dengan gambar itu.
"My life my rules" menyatakan bahwa hidupku adalah aturanku.
Itu mungkin akan terasa salah apabila dilihat dari arti sempitnya, namun sebenanya kita bisa mengartikan lebih luas lagi.
Menurutku, "My life my rules" adalah aturan yang kubuat untuk kebaikan ku sendiri namun tetap harus memperhatikan faktor-faktor lain. Seperti halnya dengan pilihan dalam hidup.
Kita boleh saja menjadi seseorang yang hidup penuh keangkuhan, penuh keegoisan, atau hidup dengan memilih-milih teman. Itu sudah menjadi pilihan hidup. Terserah saja aku ingin berbuat apa saja, asalkan apa yang ku perbuat hari ini tidak mengganggu orang lain dan tidak melanggar aturan hukum lainnya.
Bebas bukan berarti kita bisa melakukan apa pun yang kita ingini se-enaknya dengan tanpa kontrol.
Hidup ini aturanku, dan aku mengatur hidupku dengan yang baik (menurutku).
"My Life My Rules" , tergantung siapa yang mengartikan.
Siapa saja bisa mengartikannya dalam bentuk yang berbeda.
Namun jika kalimat ini dimaknai negatif, menurutku tidak.
Aku setuju dengan gambar itu.
"My life my rules" menyatakan bahwa hidupku adalah aturanku.
Itu mungkin akan terasa salah apabila dilihat dari arti sempitnya, namun sebenanya kita bisa mengartikan lebih luas lagi.
Menurutku, "My life my rules" adalah aturan yang kubuat untuk kebaikan ku sendiri namun tetap harus memperhatikan faktor-faktor lain. Seperti halnya dengan pilihan dalam hidup.
Kita boleh saja menjadi seseorang yang hidup penuh keangkuhan, penuh keegoisan, atau hidup dengan memilih-milih teman. Itu sudah menjadi pilihan hidup. Terserah saja aku ingin berbuat apa saja, asalkan apa yang ku perbuat hari ini tidak mengganggu orang lain dan tidak melanggar aturan hukum lainnya.
Bebas bukan berarti kita bisa melakukan apa pun yang kita ingini se-enaknya dengan tanpa kontrol.
Hidup ini aturanku, dan aku mengatur hidupku dengan yang baik (menurutku).
"My Life My Rules" , tergantung siapa yang mengartikan.
Siapa saja bisa mengartikannya dalam bentuk yang berbeda.
Namun jika kalimat ini dimaknai negatif, menurutku tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)



